Oleh: Muhammad Putera Sukindar

Mengkonsumsi barang demi sekedar menunjang status sosial dan gaya hidup yang glamor sudah tidak jarang lagi kita temukan pada kehidupan masyarakat era moderen ini. Terutama setelah ditanamnya nilai-nilai asing di negara Indonesia. Dengan pongah, masyarakat sudah berani menghakimi dan menilai tinggi atau tidaknya suatu “produk” yang beredar di masyarakat awam. Contoh yang paling sering kita lihat adalah bagaimana sebuah label atau merek diagung-agungkan, dan dapat menjadi standarisasi bagus atau tidaknya sebuah produk. Entah konstruksi itu terbentuk dari sebuah iklan, media masa, atau bahkan dari mulut ke mulut. Namun yang perlu digaris bawahi di sini adalah bagaimana masyarakat menyikapi hal tersebut. Apakah masyarakat sudah terhegemoni oleh kaum kapitalis, sehingga menganggap fenomena ini wajar dan malah dijadikan sebagai ajang bergensi ?

Hegemoni dalam bahasa Yunani kuno disebut ‘eugemonia’, sebagaimana dikemukakan Encyclopedia Britanica dalam prakteknya di Yunani, diterapkan untuk menunjukan dominasi posisi yang diklaim oleh negara-negara kota secara individual.[1]

Antonio Gramsci mengatakan bahwa kelas sosial akan memperoleh keunggulan (supremasi) melalui dua cara, yaitu melalui cara dominasi atau paksaan dan yang kedua adalah melalui kepemimpinan intelektual dan moral. Cara yang terakhir inilah yang kemudian disebut oleh Gramsci sebagai hegemoni[2].

Dalam artian lain Gramsci mengatakan bahwa mendominasi tidak melulu perlu menggunakan kekerasan, melainkan bisa dengan menggunakan sebuah pandangan hidup dan cara berpikir yang dominan, yang di dalamnya sebuah konsep tentang kenyataan disebarluaskan dalam masyarakat baik secara institusional maupun perorangan; (ideologi) mendiktekan seluruh cita rasa, kebiasaan moral, prinsip-prinsip religius dan politik, serta seluruh hubungan-hubungan sosial, khususnya dalam makna intelektual dan moral.[3]

Menilik dari pandangan Gramsci di atas, inilah yang digunakan oleh para kaum kapitalis di era moderen ini. Karena pada hakikatnya kapitalisme melahirkan dua tipe masyarakat, yaitu proletariat dan kapitalis. Proletariat adalah para pekerja yang menjual kerja mereka dan tidak memiliki alat-alat produksi sendiri. Sedangkan orang-orang yang memiliki alat-alat produksi disebut kaum kapitalis.[4].

Pada kasus ini dapat dihubungi jika konsumen (masyarakat) bisa dikategorikan sebagai proletariat, dan produsen di sini sebagai pemilik modal atau kaum kapitalis. Di sinilah sistem kapitalisme bekerja, di mana kaum kapitalis (tokoh intelektual) membuat apa-apa yang seolah dibutuhkan oleh para masyarakat awam lewat wacana yang dibangun melalui alat : media.

Tokoh intelektual memiliki beberapa cara untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan yang tentu saja memiliki tujuan untuk mendoktrin masyarakat awam, yakni salah satunya dengan cara menyebarkan wacana melalui media itu tadi. Sebagai contoh; televisi selain menjadi wahana hiburan dapat pula menjadi alat yang digunakan oleh kaum intelektual untuk membangun hegemoni. Begitu pula dengan media-media yang lain seperti radio, tokoh publik, dan lain sebagainya.

Semua alat (media) itu tentu saja bekerja tanpa ada unsur pemaksaan apapun di dalamnnya, sehingga masyarakat awan itu sendiri tidak merasa dirinya sedang didoktrin atau didominasi. Media secara tidak langsung menanamkan nilai-nilai kehidupan, mengkonstruk pandangan masyarakat awam hingga akhirnya mendikte pola hidup yang menuntut untuk ketergantungan dengan produk yang ditawarkan. Membuat masyarakat yang di sini sebagai kaum proletariat, seolah-olah membutuhkan produk yang dihasilkan oleh para kaum kapitalis tak lain karena sudah termakan wacana yang dibentuk media tadi.

Tentu saja jika ditinjau dengan pemikiran Gramsci, masyarakat awam tersebut jelas sudah dihegemoni oleh para kaum kapitalis yang mendikte cita rasa lewat media-media yang sudah disebutkan tadi. Inilah yang tidak disadari oleh masyarakat awam, karena memang pada prinsipnya masyarakat yang dihegemoni tidak akan pernah sadar jika dirinya sedang dihegemoni. Ini pula yang menandakan keberhasilan kaum kapitalis dalam membangun dominasi kepada masyarakat awam.

Seperti restoran, mini market, dan lain sebagaimana adalah refleksi tentang hegemoni yang biasa kita temukan dalam pasar moderen atau yang lebih dikenal sebagai mall. Seperti yang sudah saya contohkan di awal, karena hadirnya mall itulah yang kemudian menjadi parameter atau standarisasi bagus atau tidaknya sebuah produk. Bentuk hegemoni berlapis budaya inilah yang kemudian berpengaruh besar dalam perubahan gaya hidup masyarakat awam. Hingga mau tak mau masyarakat sepakat jika hanya produk keluaran dari mall-lah yang paling baik dan menjadi acuan untuk masyarakat.

Dari perilaku kelompok masyarakat tertentu terhadap masyarakat lainnya tersebut lah yang akhirnya menjadi sebuah selera, dan selera itulah yang kemudian menuntut masyarakat awam semakin konsumtif. Perilaku konsumtif itu pula yang menuntut negara untuk turut menjadi pelaku dari tindakan hegemoni, karena bagaimanapun peran negara sebagai pemegang kekuasaan tertinggi punya andil besar telah memberikan ijin bagi para pengusaha asing untuk mendirikan usahanya di negara ini.

 

[1] Eriyanto. Analisis Wacana. (LKIS. 2005), hlm. 99.

[2] Nezar Patria & Andi Arief. Antonio Gramsci : Negara & Hegemoni. (Pustaka Pelajar.2003), hlm. 119.

[3] Ibid., hlm. 116.

[4] http://indoprogress.com/2016/04/aku-marx-dan-engels/


Advertisements

3 thoughts on “Perilaku Konsumtif Masyarakat yang Dibentuk Oleh Para Kaum Kapitalis

  1. menurut hemat saya prilaku konsumtif yang diciptakan kaum kapitalis disebabkan salah satunya adalah strategi pemasaran mereka yang semakin cerdik dengan memasang iklan di media cetak dan elektronik serta promo diskon yang besar-besaran sehingga mendorong para konsumen membeli produk mereka.

    Like

  2. konsumtif,saya rasa dengan seiring perkembangan zaman,perilaku konsumtif memang menjadi ajang tersendiri,karena seiring berjalannya zaman,uang 1000 rupiah yang dahulu bisa untuk membeli beras,pada tahun ini tidak dapat apa apa.saran saya untuk kaum proletar teruslah bekerja keras untuk bisa menjadi kapitalis yang berguna bagi nusa dan bangsa.

    Like

  3. perilaku konsumtif yang berlaku (dalam hal ini di Indonesia) kini memang telah mengakar dan membudaya. media (baca: televisi) yang digunakan oleh kaum kapitalis secara tersirat telah memengaruhi pola pikir masyarakat, dalam hal memilah mana barang atau benda yang dapat dipakai sebagai ‘alat’ untuk mengaktualisasikan diri dihadapan lingkungannya. karena dewasa ini, seperti ada hukum alam yang menegaskan bahwa ‘jika saya mengonsumsi barang ini, maka saya ada’. secara tidak langsung, seseorang akan diakui keberadaannya karena dia menggunakan barang atau benda yang dianggap sebagai parameter kemakmuran.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s