Oleh: Nicko Pratama

Sungguh hebat, dosen saya ini yang bernama Saifur Rochman. Di saat semua orang sedang gencar-gencarnya dengan pergerakan di Suriah sana, Ia tetap ingin memeriahkan hari lahir seorang pemikir yang lahir di Jerman sana. Karl Marx, sering kita mendengar nama itu. Seorang pemikir yang berandai untuk menjadikan sebuah negara yang komunis. Komunis dalam arti, tidak ada kelas di dalamnya. Marx membagi dua kelas, yaitu seorang proletar (buruh) dan borjuis (yang mempunyai tenaga produksi, sumber daya, dan juga modal). Marx ingin sebuah negara yang sumbernya menuju ke pemerintahan, dalam arti pendidikan, kesejahteraan masyarakat, jaminan kesehatan ditanggung penuh oleh pemerintah. Namun, apakah negara yang seperti itu bisa berjalan dengan baik? Jika memang nantinya negara yang di-impikan oleh Marx terbentuk, apakah masyarakat bisa bersuara lagi, jika ada kesalahan di dalam pemerintahan? Menurut saya, Marx terlalu utopis jika menginginkan sebuah negara yang tanpa kelas. Tidak ada kelas di dalam sebuah negara, semua hidup aman dan sejahtera. Namun, tantangan dalam hidup kemungkinan tidak ada, dan mereka yang sudah bekerja dengan keras, akan sia-sia nampaknya. Sebab barang yang mereka punya ialah titipan semata dan nantinya akan dikembalikan kepada pemerintah.

Kembali kepada keberlangsungan acara ini. Beberapa minggu yang lalu, para panitia membicarakan biaya untuk para peserta dan pembicara. Biaya untuk ikut serta dalam acara ini nampaknya terbilang cukup fantastis. Yakni, Rp150.000₋- untuk menjadi peserta dan Rp200.000₋- untuk menjadi pembicara di dalam acara. Dan biaya itu, atas keputusan Bapak Saifur, memang menarik sekali. Dan pada hari senin, 9 Mei 2015 Bapak Saifur memutuskan untuk mempersilahkan masuk dengan cuma-cuma.

Dan pada kesempatan yang sebelumnya, saya tidak ingin ambil andil. Saya ingin mencoba membahas tentang seorang Jakartans (Warga Jakarta) yang ketergantungan akan kaum kapitalis sangatlah tinggi. Kita lihat, belakangan ini seorang Jakartans bekerja keras hanya untuk menunjukkan betapa pentingnya status sosial mereka yang hanya dibagikan melalui media sosial. Mereka dengan aduhainya meminum kopi di sebuah kedai yang pemiliknya adalah kaum kapitalis. Kita tahu, sebuah kedai kopi yang berlambangkan wanita berwarna hijau dengan mahkota di kepalanya. Para Jakartans rela duduk bersampingan dengan jendela yang menghadap langsung ke jalan. Tujuannya, tentu saja untuk menunjukkan betapa tingginya status sosial mereka. Dan terlebih aduhainya lagi, smartphone yang dibuat oleh kaum kapitalis dengan buah yang digigit setengah mereka pamerkan dengan membalikkan smartphone-nya. Ketergantungan ini-lah yang membuat keresahan-keresahan yang jika nantinya para kaum kapitalis dengan sengaja menghapus media sosial yang sering di-operasikan oleh para Jakartans dan menggantinya. Yang semula tidak berbayar, nantinya akan berbayar. Dan dibiaya-i dengan harga yang fantastis. Apakah seorang Jakartans tetap akan membeli itu? Saya pikir tentu saja. Sebab ketergantungan untuk selalu berbagi kebahagiaan di media sosial terus saja terjadi setiap harinya. Entah dengan cara menunjukkan status sosial mereka, atau-kah hanya ingin berbagi kebahagiaan yang sebenarnya.

Bagaimana bisa, status sosial terlihat hanya dari media sosial? Padahal, belum tentu mereka benar di atas seperti yang sering mereka bagikan. Tentu saja bisa terlihat, contohnya ketika kita membuka aplikasi yang di dalamnya hanya bisa melihat foto dan video, dan si pengguna itu membagikan foto-fotonya dengan tempat-tempat yan tentu saja kita hanya bisa melihatnya dari televisi saja. Atau dengan membagikan foto-foto pakaiannya. Pasti kita bisa melihat dan menebak berapa harga dari pakaian tersebut.

Lantas mengapa seorang Jakartans yang dijadikan contoh? Mengapa tidak seorang warga Bandung, Surabaya, Medan, atau kota-kota lainnya. Jakarta adalah kota Postmodern. Keluar-masuk para Homo Jakartensis. Gaya hidup yang tinggi, membuat para industri kapitalis bebas keluar-masuk seperti bajing yang merayap di kabel-kabel tiang listrik. Contoh lain, ialah para pendukung sepak bola di Jakarta saat ini. Mereka sedang aduhai-aduhainya menggukan budaya inggris sebagai kiblat dari ke-fanatikan mereka. Penampilan yang terkesan tinggi, membuat para pendukung sepak bola ini rela menghabiskan gaji per-bulannya untuk membeli sebuah pakaian dengan harga yang fantastis. Dan tentu saja, lagi-lagi para industri kapitalis-lah yang memegang kuasa saat ini.

Kapitalisasi-lah yang memegang penuh kekuatan dari segala bidang. Dari segi apapun dan dilawan dengan cara apapun, kapitalisasi tidak akan pernah lepas dari kehidupan baik dahulu maupun sekarang.

Advertisements

One thought on “Kapitalisasi Jakartans Pada Era Saat Ini

  1. Menarik jika membaca tulisan saudara Nicko. Selain pembahasannya yang ringan namun berbobot, tulisan ini juga terbilang renyah untuk dikonsumsi karena menggunakan bahasa sehari-hari.

    Hanya saja, Kawan. Sedikit keritik dari saya, bagaimana jika tulisan Nicko ini dibuat lebih mengerucut lagi, dalam artian dibuat lebih fokus lagi. Entah saudara ingin membahas sistem kapitalis di jakarta, atau ke arah mana. Agar penjelasannya tidak loncat-loncat dan lebih nyaman untuk mengikuti alur pembahasannya, agar tidak terkesan sedang membaca “racauan” saja.

    Itu saja, semoga kita dapat terus berdiskusi dengan tema yang semacam ini.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s