Kritik sosial dalam puisi “Kecoa Pembangunan” karya W.S Rendra

images

Arry Dwi Prasetyo


Nilai- nilai yang terkandung dalam sebuah karya sastra yang tercipta hukumnya adalah mutlak. Baik nilai sosial, nilai estetik, nilai moral, dll. Sang pencipta karya sastra atau sang penuis pasti memiliki maksud atau tujuan yang ingin disampaikan lewat karya-karyanya. Tetapi baik bagus maupun tidaknya suatu karya sastra, sang penulis tidak akan bisa menentukannya. Pembacalah yang berbicara, menilainya dan menikmatinya atau yang biasa menilai suatu karya sastra disebut kritikus.

Sebelum saya masuk ke dalam pembahasan, saya akan meberikan pengertian kritik satra itu sendiri. Menurut Gayly dan Scott (Drs. Liaw Yock Fang, 1970): kritik sastra adalah (1) mencari kesalahan (fault-finding), (2) memuji (to praise), (3) menilai (to judge), (4) membanding (to comprate), dan (5) menikmati (to appreciate).
Dan menurut Graham `hough (1996:3), kritik sastra tidak hanya terbatas pada penyuntingan, penetapan teks, interpretasi, serta pertimbangan nilai. Menurutnya, kritik sastra meliputi masalah yang lebih luas tentang apakah kesusastraan itu sendiri, apa tujuannya, dan bagaimana hubungannya dengan masalah-masalah kemanusiaan yang lain.

Dalam tulisan ini saya akan mencoba membahas sebuah karya sastra dari salah satu sastrawan termuka di Indonesia Almarhum W.S Rendra yaitu salah satu puisinya yang berjudul Kecoa Pembangunan. W.S Rendra kerap sekali menciptakan karya-karya yang menyinggung dan mengkritik tentang nilai-nilai kemanusiaan yang terjadi pada zaman rezim orde baru. Selain puisi Kecoa pembangunan, karya-karya W.S Rendra yang mengkritik pemerintahan di zamannya adalah Balada orang-orang tercinta, Mastodon Dan Burung Kondor, dan masih banyak lagi.

Puisi “Kecoa Pembangunan” pertama kali saya ketahui lewat video yang saya tonton kala itu, beliau membawakan puisi tersebut dalam konser Kantata Takwa (yang digawangi oleh Iwan Fals sebagai vokalis) di Senayan Jakarta, 6 Juli 1998. Puisi kala itu dibacakan di tengah-tengah lagu Balada Pengangguran. Namun dalam konser akbar tersebut, pertunjukkan tidak bisa dilanjutkan karena penonton dan aparat bentrok .W.S Rendra sendiri diketahui termasuk dalam salah satu grup musik bersama Setiawan Djodi, Iwan Fals, Sawung Jabo, dkk, yang saat itu lagu-lagu mereka kebanyakan bertemakan kritik sosial untuk rezim orde baru.

Sedikit informasi, sahabat W.S Rendra, Iwan Fals pernah menciptakan lagu untuknya yang bejudul Willy. Dalam lagu tersebut, Iwan Fals menyebut W.S Rendra “si anjing liar dari jogjakarta”,  penggalan lirik tersebut bermaknakan bahwa Rendra benar-benar seseorang yang kritis dan perduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Dan dalam lirik  dimana kau berada? Tetapkah nyarng suaramu?  terselip kerinduan Iwan fals kepada Rendra baik kepada orangnya, maupun karya-karya Rendra yang selalu peduli akan nilai-nilai kemanusiaan.

Puisi Kecoa pembangunan karya Willy sendiri secara terang-terangan menyindir presiden atau pemimpin tertinggi pada rezim orde baru pada zaman itu yaitu Soeharto yang katanya orang bilang Bapak Pembangunan. Namun kenyataannya pembangunan yang terlihat hanyalah berisi ketimpangan, monopoli, bersifat militeristik, penggusuran, dan pertumpahan darah.

Saya pribadi sangat suka dengan larik-larik yang diciptakan oleh sang maestro W.S Rendra. Permainan akrobatik kata yang sangat indah membuat saya gemetar walaupun berulang kali membacanya. KECOA PEMBANGUNAN, bagaikan runcing tajam yang menusuk ulu hati julukan sang BAPAK PEMBANGUNAN. Kecoa sendiri seperti yang kita ketahui adalah binatang yang menjijikkan, bau, kotor, dan penuh dengan kuman. Seperti itulah yang ingin disampaikan Rendra dari Judul puisi nya tersebut kepada pemimpin rezim tertinggi kala itu.
Berikut akan saya lampirkan puisinya secara utuh:
KECOA PEMBANGUNAN
W.S Rendra
Kecoa pembangunan
Salah dagang banyak hutang
Tata bukunya ditulis di awan
Tata ekonominya ilmu bintang
Kecoa..kecoa…ke…co…a…..

Dengan senjata monopoli
Menjadi pencuri
Kecoa…kecoa..ke…co…a…

Dilindungi kekuasaan
Merampok negeri ini
Kecoa, kecoa pembangunan
Ngimpi ngelindur disangka pertumbuhan
Hutang pribadi dianggap hutang bagsa
Suara dibungkam agar dosa berkuasa
Kecoa..kecoa..ke..co…a….

Stabilitas, stabilitas katanya
Gangsir Bank
Gangsir Bank, kenyataannya
Kecoa..kecoa…ke..co….a…

Keamanan, ketenangan katanya
Marsinah terbunuh, petani digusur, kenyataannya
Kecoa pembangunan
Kecoa bangsa dan negara
Lebih berbahaya ketimbang raja singa
Lebih berbahaya ketimbgan pelacuran
Kabut gelap masa depan
Kemarau panjang bagi harapan
Kecoa…kecoa…ke…co….a..

Ngakunya konglomerat
Nyatanya macan kandang
Ngakunya bisa dagang
Nyatanya banyak hutang
Kecoa…kecoa…ke…co..a…

Paspornya empat
Kata buku dua versi
Katanya pemerataan
Nyatanya monopoli
Kecoa…kecoa…ke…co..a…

Kita masuk pada bait pertama, Salah dagang banyak hutang, Tata bukunya ditulis di awan, Tata ekonominya ilmu bintang. Pada bait pertama, Rendra ingin menyampaikan tentang cara sang pemimpin kala itu menjalankan perekonomian negaranya. Dengan cara berdagang, sang tuan bukannya membuat peluang malah membuat negara mempunyai banyak hutang. Tata bukunya ditulis di awan, tata ekonominya ilmu bintang. Keras sekali sindiran sang Maestro tentang sang pemimpin rezim kala itu yang catatan tentang perdagangan perekonomian negaranya hanya antek-anteknya saja yang tahu, dan menyingggug secara tidak langsung bahwa tata perekonomiannya itu ilmu ilmu milik orang-orang tinggi yang malah bermakna kebalikannya.

Pada bait kedua: Dengan senjata monopoli, menjadi pencuri, disini Rendra secara terang-terangan menyebut pemimpin teritinggi kala itu menjalankan sistem monopoli dan mencuri hak-hak milik orang lain maupun negara.

Pada bait ketiga: Dilindungi kekuasaan, Merampok negeri ini, Kecoa, kecoa pembangunan, Ngimpi ngelindur disangka pertumbuhan, Hutang pribadi dianggap hutang bangsa, Suara dibungkam agar dosa berkuasa. Dengan berbalut sebuah kekuasaan yaitu pemimpin tertinggi negara, sang Tuan dengan leluasa menggerogoti negeri ini, berkhayal tentang kemajuan nyatanya pembodohan, dan suara-suara kebenaran dibungkam dan dilenyapkan demi keuntungan sang pemimpin ba**jingan. Begitulah kira-kira yang ingin disampaikan oleh sang Rendra.

Pada bait keempat: Stabilitas, stabilitas katanya, Gangsir Bank, Gangsir Bank, kenyataannya. Stabilitas yang digembar-gemborkan oleh pemererintahan pada zaman orde baru tersebut kenyataannya hanyalah stabilitas yang hanya dimilik oleh pihak-pihak orang sakti yang duduk dibangku pemerintahan dan malah ketimpangan keamanan dan pertumpahan darah yang terjadi.

Pada bait kelima: Keamanan, ketenangan katanya, Marsinah terbunuh, petani digusur, kenyataannya, Kecoa pembangunan, Kecoa bangsa dan negara, Lebih berbahaya ketimbang raja singa, Lebih berbahaya ketimbgan pelacuran, Kabut gelap masa depan, Kemarau panjang bagi harapan”. Sang pencipta puisi tersebut menyampaikan betapa mengerikannya keberadaan sang pemimpin negeri kita kala itu. Tidak ada tempat untuk kita rakyat kecil untuk mendapatkan dan keamanan yang seharusnya sudah menjadi hak setiap makhluk hidup. Tak hanya celoteh belaka, perkataan sang Rendra benar-benar terjadi sampai sekarang, keberadaan dan gaya kepemimpinan sang pemimpin pada masa rezim orde baru itu seperti mimpi buruk yang kita temui di setiap malam saat kita tidur. Korupsi, ketidak adilan bagi rakyat menengah kebawah, masih sering kita jumpai, seperti budaya yang sudah melekat bagi negeri kita yang kaya raya tapi miskin hatinya ini.

Pada bait keenam:  Ngakunya konglomerat, Nyatanya macan kandang, Ngakunya bisa dagang, Nyatanya banyak hutang”.  Pada bait ini, seperti sebuah penguatan pada bait pertama. Dan ditambahkan bahwa sang pemimpin kala itu hanya mementingkan kepentingan pribadi dan hanya duduk di singgah sana menyaksikan penderitaan rakyat yang kian terpuruk.

Pada bait terakhir: Paspornya empat, Kata buku dua versi, Katanya pemerataan, Nyatanya monopoli. Sudah jelas sekali apa yang disampaikan oleh sang Rendra, bahwa kepemimpinan saat itu bersifat monopoli tetapi mencoba menenangkan hati rakyat dengan pernyataan yang katanya pemerataan

Dari semua tulisan di atas, bisa kita simpulkan apa yang ingin disampaikan sang maestro W.S Rendra tentang bagaimana gaya kepemimpinan pemerintahan negeri kita Indonesia pada saat zaman rezim orde baru. Yah, walaupun pada saat itu saya sendiri belum mempunyai hati nurani untuk merasakan penderitaan pada zaman tersebut, tetapi lewat tulisan W.S Rendra berikut ini, saya bisa merasakan emosi yang ingin disampaikan beliau kepada sang pemimpin yang tidak ragu untuk meghapus nyawa manusia demi kepentingan pribadi semata.

 

Mental yang Terpuruk dalam Selir Klindet

Ganesa Sangga Buana

            Sastra adalah ungkapan atau curahan apa yang terbesit dalam hati kita. Berupa novel,puisi,cerpen,ataupun naskah drama. Kadang kita tidak sadar dalam membuat suatu karya. Kebetulan karena hati dengan suasana yang pas akan melahirkan suatu bentuk karya sastra. Sastra lahir disebabkan dorongan dasar manusia untuk menaruh minat terhadap masalah manusia dan kemanusiaan. Lebih terfokus dalam dunia realitas yang kadang kita imaji kan. Karya sastra merupakan karya seni, mediumnya bahasa, dan isinya tentang manusia dan kemanusian ( Zulkarnaini, 2008: 2). Continue reading

Dunia Hiperealitas

Latifah

Tak perlu ke Mekkah untuk mendapat gambar Kabah. Sejengkal langkahpun tak dibutuhkan untuk berburu diskon lebaran. Bahkan tak perlu bangku kuliah untuk mengenal apa itu kritik sastra. Hanya bermodalkan beberapa gigabyte paket data dan handphone (HP) untuk meraih semuanya.

Marshall McLuhan-lah yang pertama kali membahas tentang hiperealitas. Ia menulis pada 1964, konteks hari itu ialah perkembangan televisi dan komputer. McLuhan optimis pada kemajuan teknologi yang ia ramalkan akan tumbuh desa-desa global, tanpa sekat informasi.

Namun Jean Baudrillard yang kemudian melanjutkan ramalan McLuhan. Bahwa yang kemudian tercipta bukan sekadar desa global, melainkan desa hiperealitas. Continue reading

Mencari Realitas dalam Absurditas Semusim Lagi

Zahra Salsabila

Pengantar

Karya sastra yang selama ini turut meramaikan kehidupan kita, tentunya memiliki beberapa fungsi lain yang lebih penting daripada sekadar hiburan, seperti yang dikutip dari Amriyan Sukardi dalam sastrawan.web.id. Selain untuk mengkomunikasikan ide-ide atau menyalurkan pikiran dan perasaan dari pembuat estetika manusia, dalam karya sastra juga ada deskripsi peristiwa, gambaran psikologis, dan pemecahan masalah jangkauan dinamis. Hal ini dapat menjadi sumber ide dan inspirasi bagi pembaca. Konflik dan tragedi yang digambarkan dalam karya sastra untuk memberikan kesadaran kepada pembaca bahwa ini bisa saja terjadi dalam kehidupan nyata dan dialami langsung oleh pembaca. Kesadaran yang membentuk semacam kesiapan batin untuk mengatasi kondisi sosial yang berlaku dalam masyarakat. Continue reading

BUDAYA PATRIARKI DALAM NOVEL LELAKI HARIMAU KARYA EKA KURNIAWAN

Ummi Anisa

Berbicara mengenai karya sastra tentunya tak akan luput dari unsur kebudayaan dan era sosial yang melingkupinya. Sastra tidak hanya dijadikan sebagai sarana mengapresiasikan seni menulis, lebih dari itu: karya sastra –dalam hal ini prosa, merupakan wadah dalam merefleksikan isu-isu sosial dari kehidupan masyarakat pada suatu masa melalui kisah fiksi Continue reading

KRITIK SOSIAL DALAM CERPEN GINCU INI MERAH SAYANG DAN PENAFSIR KEBAHAGIAAN KUMPULAN CERPEN PEREMPUAN PATAH HATI YANG KEMBALI MENEMUKAN CINTA MELALUI MIMPI KARYA EKA KURNIAWAN

Riska Yuvista

 Karya sastra dikenal dalam dua bentuk, yaitu fiksi dan nonfiksi. Jenis karya sastra fiksi adalah prosa, puisi, dan drama. Sedangkan contoh karya sastra nonfiksi adalah biografi, autobiografi, esai, dan kritik sastra. Menurut Suroto, roman terbentuk atas pengembangan seluruh segi kehidupan pelaku dalam cerita tersebut. Karya sastra kerapkali dipergunkan sebagai media pengungkap pesan yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca, hal ini disebut dengan Model. Model adalah bentuk dari sebuah wacana. Model juga sering dipahami sebgai pola atau pakem yang kerap kali dijadikan sebagai pola dari gagasan yang hendak disampaikan. Continue reading