WAWASAN NUSANTARA DALAM PERSPEKTIF ISLAM NUSANTARA

Mempelajari wawasan nusantara sudah pasti kita harus melepaskan atribut suku, agama, ras, dan golongan. Nusantara, semua hal masuk ke dalamnya. Belajar mengenai wawasan nusantara, mengingatkan saya pada islam nusantara. Continue reading

Advertisements

NEGARA HUKUM, KATANYA

Agustus lalu saya dan seorang rekan dari pers mahasiswa melaksanakan liputan ke salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Sebagaimana dengan beberapa pulau lain, Pulau Pari tengah menghadapi sengketa. Sengketa yang terjadi yaitu antara warga dan PT Bumi Pari Asri yang belakangan saya ketahui dimiliki oleh salah satu pengusaha yang dekat dengan keluarga cendana. Berbagai cara sudah dilancarkan oleh perusahaan yang rumornya hendak membangun hotel tersebut. Mulai dari mendatangan satuan keamanan yang berkeliling setiap hari, hingga mendirikan koperasi mengatasnamakan warga. Continue reading

IDENTITAS TAK LEPAS DARI KOMODITAS

LATIFAH

(2125142208 – Sastra Indonesia)

Selanjutnya yang dibahas dalam kewarganegaraan ialah identitas nasional. Di mana suatu negara sudah pasti memiliki identitasnya masing-masing. Mulai dari suku, bahasa, lagu kebangsaaan, hingga bendera.

Kali ini saya tidak ingin membahas apa yang dimaksud identitas secara harfiah maupun terminologi. Sebab saya sendiri tersesat oleh pengertian KBBI yang hanya menyebut identitas sebagai jati diri. Saya rasa saya masih kurang membaca banyak terkait jati diri bangsa.

Saya justru tergelitik untuk membahas bagaimana sebuah identitas tak lepas dari sekadar komoditas belaka. Semakin spesifik suatu identitas, maka terdapat nilai jual di sana. Sebenarnya tidak hanya identitas, nasionalisme pun menjadi jargon dagang yang sangat laris. Continue reading

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN, PENTINGKAH?

LATIFAH

(2125142208 – Sastra Indonesia)

Mulanya saya sempat bingung mengapa mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan terpisah. Apalagi di dalam paket sks prodi saya, keduanya disela beberapa semester. Mestinya, kedua hal ini saling berkesinambungan. Terutama bila lingkup pembelajaran Kewarganegaraan ini adalah Indonesia.

Membahas kewarganegaraan, terlintas dalam benak saya hal utamanya ialah nasionalisme. Satu kata yang telah menjadi momok bagi tiap warga. Kadangkala seperti teror. Continue reading

Kritik sosial dalam puisi “Kecoa Pembangunan” karya W.S Rendra

Arry Dwi Prasetyo


Nilai- nilai yang terkandung dalam sebuah karya sastra yang tercipta hukumnya adalah mutlak. Baik nilai sosial, nilai estetik, nilai moral, dll. Sang pencipta karya sastra atau sang penuis pasti memiliki maksud atau tujuan yang ingin disampaikan lewat karya-karyanya. Tetapi baik bagus maupun tidaknya suatu karya sastra, sang penulis tidak akan bisa menentukannya. Pembacalah yang berbicara, menilainya dan menikmatinya atau yang biasa menilai suatu karya sastra disebut kritikus.

Continue reading

Mental yang Terpuruk dalam Selir Klindet

Ganesa Sangga Buana

            Sastra adalah ungkapan atau curahan apa yang terbesit dalam hati kita. Berupa novel,puisi,cerpen,ataupun naskah drama. Kadang kita tidak sadar dalam membuat suatu karya. Kebetulan karena hati dengan suasana yang pas akan melahirkan suatu bentuk karya sastra. Sastra lahir disebabkan dorongan dasar manusia untuk menaruh minat terhadap masalah manusia dan kemanusiaan. Lebih terfokus dalam dunia realitas yang kadang kita imaji kan. Karya sastra merupakan karya seni, mediumnya bahasa, dan isinya tentang manusia dan kemanusian ( Zulkarnaini, 2008: 2). Continue reading

Dunia Hiperealitas

Latifah

Tak perlu ke Mekkah untuk mendapat gambar Kabah. Sejengkal langkahpun tak dibutuhkan untuk berburu diskon lebaran. Bahkan tak perlu bangku kuliah untuk mengenal apa itu kritik sastra. Hanya bermodalkan beberapa gigabyte paket data dan handphone (HP) untuk meraih semuanya.

Marshall McLuhan-lah yang pertama kali membahas tentang hiperealitas. Ia menulis pada 1964, konteks hari itu ialah perkembangan televisi dan komputer. McLuhan optimis pada kemajuan teknologi yang ia ramalkan akan tumbuh desa-desa global, tanpa sekat informasi.

Namun Jean Baudrillard yang kemudian melanjutkan ramalan McLuhan. Bahwa yang kemudian tercipta bukan sekadar desa global, melainkan desa hiperealitas. Continue reading