IDENTITAS TAK LEPAS DARI KOMODITAS

LATIFAH

(2125142208 – Sastra Indonesia)

Selanjutnya yang dibahas dalam kewarganegaraan ialah identitas nasional. Di mana suatu negara sudah pasti memiliki identitasnya masing-masing. Mulai dari suku, bahasa, lagu kebangsaaan, hingga bendera.

Kali ini saya tidak ingin membahas apa yang dimaksud identitas secara harfiah maupun terminologi. Sebab saya sendiri tersesat oleh pengertian KBBI yang hanya menyebut identitas sebagai jati diri. Saya rasa saya masih kurang membaca banyak terkait jati diri bangsa.

Saya justru tergelitik untuk membahas bagaimana sebuah identitas tak lepas dari sekadar komoditas belaka. Semakin spesifik suatu identitas, maka terdapat nilai jual di sana. Sebenarnya tidak hanya identitas, nasionalisme pun menjadi jargon dagang yang sangat laris. Continue reading

Advertisements

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN, PENTINGKAH?

LATIFAH

(2125142208 – Sastra Indonesia)

Mulanya saya sempat bingung mengapa mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan terpisah. Apalagi di dalam paket sks prodi saya, keduanya disela beberapa semester. Mestinya, kedua hal ini saling berkesinambungan. Terutama bila lingkup pembelajaran Kewarganegaraan ini adalah Indonesia.

Membahas kewarganegaraan, terlintas dalam benak saya hal utamanya ialah nasionalisme. Satu kata yang telah menjadi momok bagi tiap warga. Kadangkala seperti teror. Continue reading

Kritik sosial dalam puisi “Kecoa Pembangunan” karya W.S Rendra

Arry Dwi Prasetyo


Nilai- nilai yang terkandung dalam sebuah karya sastra yang tercipta hukumnya adalah mutlak. Baik nilai sosial, nilai estetik, nilai moral, dll. Sang pencipta karya sastra atau sang penuis pasti memiliki maksud atau tujuan yang ingin disampaikan lewat karya-karyanya. Tetapi baik bagus maupun tidaknya suatu karya sastra, sang penulis tidak akan bisa menentukannya. Pembacalah yang berbicara, menilainya dan menikmatinya atau yang biasa menilai suatu karya sastra disebut kritikus.

Continue reading

Mental yang Terpuruk dalam Selir Klindet

Ganesa Sangga Buana

            Sastra adalah ungkapan atau curahan apa yang terbesit dalam hati kita. Berupa novel,puisi,cerpen,ataupun naskah drama. Kadang kita tidak sadar dalam membuat suatu karya. Kebetulan karena hati dengan suasana yang pas akan melahirkan suatu bentuk karya sastra. Sastra lahir disebabkan dorongan dasar manusia untuk menaruh minat terhadap masalah manusia dan kemanusiaan. Lebih terfokus dalam dunia realitas yang kadang kita imaji kan. Karya sastra merupakan karya seni, mediumnya bahasa, dan isinya tentang manusia dan kemanusian ( Zulkarnaini, 2008: 2). Continue reading

Dunia Hiperealitas

Latifah

Tak perlu ke Mekkah untuk mendapat gambar Kabah. Sejengkal langkahpun tak dibutuhkan untuk berburu diskon lebaran. Bahkan tak perlu bangku kuliah untuk mengenal apa itu kritik sastra. Hanya bermodalkan beberapa gigabyte paket data dan handphone (HP) untuk meraih semuanya.

Marshall McLuhan-lah yang pertama kali membahas tentang hiperealitas. Ia menulis pada 1964, konteks hari itu ialah perkembangan televisi dan komputer. McLuhan optimis pada kemajuan teknologi yang ia ramalkan akan tumbuh desa-desa global, tanpa sekat informasi.

Namun Jean Baudrillard yang kemudian melanjutkan ramalan McLuhan. Bahwa yang kemudian tercipta bukan sekadar desa global, melainkan desa hiperealitas. Continue reading

Mencari Realitas dalam Absurditas Semusim Lagi

Zahra Salsabila

Pengantar

Karya sastra yang selama ini turut meramaikan kehidupan kita, tentunya memiliki beberapa fungsi lain yang lebih penting daripada sekadar hiburan, seperti yang dikutip dari Amriyan Sukardi dalam sastrawan.web.id. Selain untuk mengkomunikasikan ide-ide atau menyalurkan pikiran dan perasaan dari pembuat estetika manusia, dalam karya sastra juga ada deskripsi peristiwa, gambaran psikologis, dan pemecahan masalah jangkauan dinamis. Hal ini dapat menjadi sumber ide dan inspirasi bagi pembaca. Konflik dan tragedi yang digambarkan dalam karya sastra untuk memberikan kesadaran kepada pembaca bahwa ini bisa saja terjadi dalam kehidupan nyata dan dialami langsung oleh pembaca. Kesadaran yang membentuk semacam kesiapan batin untuk mengatasi kondisi sosial yang berlaku dalam masyarakat. Continue reading

BUDAYA PATRIARKI DALAM NOVEL LELAKI HARIMAU KARYA EKA KURNIAWAN

Ummi Anisa

Berbicara mengenai karya sastra tentunya tak akan luput dari unsur kebudayaan dan era sosial yang melingkupinya. Sastra tidak hanya dijadikan sebagai sarana mengapresiasikan seni menulis, lebih dari itu: karya sastra –dalam hal ini prosa, merupakan wadah dalam merefleksikan isu-isu sosial dari kehidupan masyarakat pada suatu masa melalui kisah fiksi Continue reading